Masyarakat Muslim Inggris

Oktober 4, 2008 at 8:15 am (Uncategorized)

Sumber : BBC Indonesia, Diperbaharui pada: 19 Agustus, 2008 – Published 18:03 GMT


East London Mosque
Brick Lane dari East London Mosque, salah satu masjid nesar London

Masyarakat Muslim Inggris sebagian besar terdiri dari para pendatang yang terutama berasal dari Pakistan, Bangladesh dan India.

Gelombang kedatangan para imigran Muslim Inggris bermula pada tahun 1950an dan 1960an, dan sampai sekarang warna anak benua India masih kental dalam identitas kaum Muslim Inggris.

Pemerintah Inggris sekarang getol mendorong pembentukan identitas Muslim yang khas. Apakah ini bisa terjadi dan bagaimana bentuknya?

Setiap hari Jum’at Masjid Brick Lane di London Timur dipenuhi jemaah yang datang dari jalan-jalan di sekitarnya dan bahkan orang-orang Bangladesh yang tinggal di bagian lain kota London.

Kecamatan tempat masjid ini berada, Tower Hamlets, lebih dari sepertiga penduduknya berasal dari Bangladesh.

Khotbah di Masjid Brick Lane disampaikan dalam Bahasa Bengali dan Bahasa Arab, tanpa sepatah kata pun dalam bahasa Inggris.

Tema menarik

Salah seorang jemaah, Jahangir Khan, rela melakukan perjalanan setengah jam setiap Jum’at karena khatib di masjid ini selalu mengucapkan tema-tema yang menarik dengan cara yang memikat.

Keluarga muslim menunaikan salat di salah satu masjid London
Keluarga muslim menunaikan salat di salah satu masjid London

Seorang jemaah lain mengatakan berbeda dengan Masjid East London yang letaknya tak sampai satu kilometer dari Brick Lane, Masjid Brick Lane tidak mendapat bantuan asing dan sepenuhnya dibiayai oleh masyarakat setempat.

Masyarakat Muslim keturunan Bangladesh termasuk di antara kelompok masyarakat termiskin di Inggris, dengan capaian pendidikan yang lebih rendah dari rata-rata.

Di Brick Lane, lagu-lagu religius berbahasa Bengali mengalun dari luar toko yang menjual buku-buku agama dan kebutuhan ibadah lainnya.

Di kanan kiri jalan, terdapat banyak toko dan restoran yang menjual kebutuhan masyarakat asal Bangladesh.

Kehidupan komunitas Muslim di daerah ini bersifat mono kultural dan mono lingual dengan ikatan yang masih sangat kuat dengan negara asal mereka. Tak sampai sepuluh kilometer ke arah Barat, irama yang mengalun sudah sangat berbeda.

City Circle

Tak jauh dari stasiun kereta api Marble Arch, di tengah kota London, sebuah kelompok profesional muda Muslim mengadakan acara mingguan, malam itu mereka menghadirkan seorang penulis yang baru saja menerbitkan bukunya.

Wanita muslim belajar
Pendidikan menjadi isu penting di City Circle

The City Circle adalah sebuah jaringan profesional yang sebagian besar terdiri dari kaum Muslim yang acaranya membahas tema-tema seperti pendidikan, pekerjaan, soal integrasi, masalah ekstremisme, maupun masalah spiritualitas dan agama.

Dengan jasnya yang parlente dan kaca mata desainer, ketua yayasan City Circle, Asim Siddiqui, berpenampilan seperti umumnya para eksekutif di pusat keuangan kota London. Dia seorang akuntan yang bekerja di sebuah perusahaan jasa keuangan.

“Cara kami berdiskusi di sini mendorong peserta untuk mengajukan pertanyaan. Pesertanya pun sangat beragam, kami tidak punya keanggotaan resmi, ada Muslim konservatif ada pula yang liberal, selain itu kalangan non Muslim.”

“Yang juga penting bagi kami adalah agar komunitas non Muslim bisa melihat bahwa masyarakat Muslim bisa berdiskusi secara terbuka dan kritis terhadap mereka sendiri,” kata Asim Siddiqui.

Lebih dari separuh peserta yang hadir malam itu adalah wanita, sebagian berjilbab sebagian tidak.

Karena diskusi diadakan dalam Bahasa Inggris, pendatangnya pun terdiri dari anak-anak muda Muslim yang berasal dari berbagai negara.

Islam di Indonesia

Apakah acara City Circle menggambarkan komunitas Muslim Inggris di masa depan? Dr Musharraf Hussain adalah seorang hafiz, pendidik dan salah seorang ketua UK-Indonesia Islamic Advisory Group yang dibentuk mantan Perdana Menteri Tony Blair dan Presiden Yudhoyono.

Banyak orang mengaku terkesan dengan kehidupan muslim di Indonesia
Banyak orang mengaku terkesan dengan kehidupan muslim di Indonesia

Dia terkesan sekali melihat Islam di Indonesia yang sudah mempunyai identitas tersendiri.

“Saya kaget sekali melihat bedug besar di Masjid Istiqlal, yang tidak akan mungkin terlihat di Timur Tengah, bisa-bisa dianggap bid’ah besar yang harus dikutuk,” katanya.

Agama Islam sudah berabad-abad menyebar di kepulauan Nusantara, sedangkan di Inggris, sampai tahun 1951 diperkirakan hanya terdapat 21 ribu warga Muslim.

Jumlah itu sekarang meningkat pesat menjadi sekitar 1,6 juta jiwa, terutama karena kedatangan para pekerja dari Pakistan dan Bangladesh.

Jadi bagaimana identitas keislaman Inggris. Apakah Islam di Inggris mempunyai identitas yang khas?

“Kami berusaha menciptakan identitas itu, Insya Allah. Itulah salah satu keindahan Islam, dimanapun Islam menyebar, Islam bisa menyesuaikan dengan lingkungan setempat tetapi sekaligus membentuk masyarakat di sana.”

“Saya kira cirinya adalah sifatnya dinamis, perpaduan antara sifat-sifat keinggrisan seperti demokrasi yang berhasil dan ajaran Islam, sifatnya terbuka dan mau berinteraksi dengan berbagai pihak,” kata Musharraf.

Ciri-ciri fisik identitas kaum Muslim Inggris, seperti bentuk masjid atau bedug belum terlihat, tetapi sifat-sifat yang diinginkan sepertinya sudah mulai terbentuk

4 Komentar

  1. kamal said,

    mari kita didik generasi penerus dengan baik , untuk meneruskan perjuangan menegakkan agama ALLAH SWT.

    • hausbukuislam said,

      Maaf Telat membalasnya komentar Anda kamisenantiasa kami harapkan

  2. Jhonny Sardjono said,

    Islam di Inggris insyaallah jauh lebih maju lagi dan di cintai oleh semua insan manusia

    • hausbukuislam said,

      Terima kasih Mas Jhonny, komentar Anda kami natikan selalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: