Penerjemahan Karya-Karya Yunani dan Persia ke Bahasa Arab

September 18, 2008 at 4:01 pm (Buku Islam, M. Idbal Dawami, Muslim, Sejarah) ()

Oleh M. IQBAL DAWAMI

Sebelum Islam datang telah berkembang pendidikan Sassanian yang dipelopori oleh para penguasanya sendiri. Ardeshir Papakan, misalnya, mengirimkan orang-orang terpelajar ke India dan kekaisaran Romawi untuk mendapatkan karya-karya ilmiah dan filsafat.

Selanjutnya ia memerintahkan penerjemahan karya-karya tersebut ke dalam bahasa Pahlavi, sebuah tugas yang kemudian dilanjutkan oleh anak laki-lakinya, Shapur. Tradisi penerjemahan terus dipelihara, sehingga lambat laun menghasilkan lembaga-lembaga pendidikan baru di kota-kota penting Persia, seperti, Jundi-Shapur. Di antara sekolah-sekolah baru tersebut yang terkenal adalah Beit Ardeshir dimana terjemahan dilakukan oleh kepala sekolahnya sendiri, Maan Beit Ardeshiri

Sekolah Maan telah berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan Helenistik, Syrian dan Zoroastrian. Namun yang paling berpengaruh hingga masa Islam adalah Jundi-Shapur. Dari akademi ini pula muncul beberapa terjemahan penting dari bahasa Sansekerta, Pahlavi, dan Syria.

Periodisasi penerjemahan

Periodisasi penerjemahan ini dimulai sejak masa Umayyah hingga Abbasiyah: 650 – 800 M Severus Sebokht, pendeta biara Qen-Neshre di Upper Euphrates yang terkenal sekitar tahun 650 M adalah seorang ahli sains dan filosof. Di bawah kepemimpinannya, biara menjadi salah satu pusat utama dari pengetahuan Yunani. Banyak dari pengetahuan Yunani dan mungkin juga Hindu yang ditransmisikan kepada bangsa Arab melalui usaha-usahanya. Ia memiliki keyakinan, sebuah keyakinan yang tidak lazim pada masanya, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan haruslah berjalan di atas alas internasional.

Khalid ibn Yazid ibn Murawiya, seorang penguasa Umayyah dan filosof dianggap sebagai orang yang mendorong para sarjana Yunani di Mesir untuk menerjemahkan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab. Peristiwa ini merupakan proses penerjemahan pertama yang terjadi dalam dunia Islam. Ibnu Yazid hidup di Mesir dan meninggal antara tahun 704-708 M.

Muhammad ibn Ibrahim al-Fazari menerjemahkan karya astronomi Siddhanta berbahasa Sansekerta, ke dalam bahasa arab sekitar tahun 772 M. Ayahnya dianggap sebagai seorang muslim pertama yang mengkonstruksi Astrolabe (ilmu perbintangan), dan ia dipercaya sebagai salah satu sarjana yang pertama kali memiliki hubungan dengan matematika Hindu. Penerjemahan yang dilakukannya mungkin telah membawa huruf-huruf Hindu ke dalam Islam.

Abu Sahl al-Fadl ibn Naubkht, seorang kepala Pustakawan berkebangsaan Persia pada masa Harun al-Rasyid, menerjemahkan karya-karya astronomi dari bahasa Persia ke dalam bahasa arab. Jirjis ibn Jibril ibn Bakhtyashu, seorang berkebangsaan Persia pengikut Nestorian, merupakan orang pertama yang menerjemahkan karya-karya kedokteran ke dalam bahasa arab. Ia juga merupakan orang pertama dari kelompok tabib terkenal

Nestorian yang memiliki hubungn dengan beberapa khalifah Abbasiyah. Mereka semua memberikan pengaruh yang besar bagi ilmu pengobatan muslim pada abad ke-8 dan ke-9. Bakhtyashu datang ke Bagdad melalui Jundishapur dimana ia di sana bekerja sebagai kepala rumah sakit pada masa khalifah al-Mansur Abu Yahya ibn al-Batriq, seorang dokter yang hidup pada abad ke-8. Sebagaimana Bakhtyashu, ia bekerja pada khalifah al-Mansur. Ia menerjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa arab yaitu sebagian dari karya-karya Hippocrates dan Galen.

Abdullah ibn al-Muqaffa adalah seorang pemikir asli Persia yang terkenal di Basrah. Ia menerjemahkan beberapa karya dalam bahasa Matlawi yang berkaitan dengan logika dan medis. Akan tetapi ia lebih dikenal karena terjemahannya terhadap syair Muluk al-Ajam dan Kalila Wa Dimna. Al-Mansur, khalifah Abbasiyah kedua (754-775 M) pendiri kota Bagdad, terkenal karena karya-karya terjemahannya dari bahasa Syiria, Persia, Yunani dan India selama masa kekuasaannya.

Harun al-Rasyid, khalifah kelima dan salah satu penguasa Abbasiyah yang terbesar, memerintah dari tahun 786 hingga 809 M. Ia mempunyai perananan aktif dalam kemajuan dunia penerjemahan. Periode 800-900 M Al-Makmun, penguasa Bagdad (786-833 M), khalifah ketujuh dan mungkin juga khalifah Abbasiyah terbesar (813-833), merupakan pemrakarsa pengetahuan dan karya-karya ilmiah melebihi Harun al-Rasyid serta menjadikan pencarian dan penerjemahan manuskrip-manuskrip Yunani sebagai tujuan hidupnya, bahkan ia mengirim sebuah misi kepada raja Byzantium, Leon De Armenia, demi tujuan hidupnya itu.

Al-Makmun mengundang, menerjemahkan dan mendukung para sarjana Yahudi dan Kristen untuk menerjemahkan manuskrip-manuskrip Yahudi itu ke dalam bahasa arab. Ia juga mendirikan perpustakaan Bait Al-Hikmah (house of wisdom), akademi ilmu pengetahuan, serta membangun sebuah pusat penelitian berdasarkan usulan ratu Palmyra. Selama masa kekuasaannya, beratus-ratus manuskrip telah diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab.

Abu Zakariyya Yahya Ibn Batriq, menerjemahkan ke dalam bahasa arab, yaitu buku-buku Hipocrates tentang tanda-tanda kematian, beberapa karya Aristoteles, karya-karya Galen, De Theriaca dan Pisonem Al-Kindi, seorang filosof lepas, menerjemahkan dan memimpin proses penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam bahasa arab. Karya-karya terjemahannya yang paling terkenal adalah sebuah karya Neoplatonik yang didasarkan pada buku-buku IV hingga VI dari buku Enneads karya Plotinus.

Jibrail Ibn Bakhtyashu, cucu dari seorang penerjemah pendahulu dengan nama yang sama, menjadi dokter ahli bagi al-Makmun dan Harun al-Rasyid dan menerjemahkan banyak manuskrip Yunani dalam bidang kedokteran. Sahl at-Thabari, seorang ahli astronomi dan tabib yahudi adalah satu dari penerjemah-penerjemah pertama Adri Almagest karya Ptolemy ke dalam bahasa arab Ibnu Sahda, menerjemahkan banyak karya dalam bidang kedokteran dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Syria dan Arab. Ia terkenal dengan terjemahannya terhadap beberapa karya Hippocrates dan Galen ke dalam bahasa arab.

Al-Hajjaj ibn Yusuf ibn Matar, adalah penerjemah pertama Element karya Euclid ke dalam bahasa arab. Ia juga penerjemah pertama al-Magest ke dalam bahasa arab dari versi Syria pada tahun 830 M. Tsabit Ibn Qurra, adalah seorang tabib, ahli matematika dan ahli astronomi, serta salah satu dari penerjemah hebat dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Syria dan bahasa arab. Ia mendirikan sebuah sekolah bagi para penerjemah yang anggotanya adalah kebanyakan dari keluarganya sendiri.

Karya-karyanya yang telah diterjemahkan olehnya atau di bawah arahannya adalah buku V-VII karya Apollonius of Perga, dan beberapa karya Archimedes Tiga bersaudara Banu Musa, yang masing-masing memiliki keahlian dalam salah satu atau tiga bidang ilmu pengetahuan, menghabiskan sebagian besar waktu dan kekayaannya untuk memperoleh manuskrip-manuskrip Yunani serta menerjemahkannya ke dalam bahasa arab.

Hunain Ibn Ishaq dan Tsabit Ibn Qurra merupakan para penerjemah paling terkenal yang mereka pekerjakan. Banyak tulisan-tulisan dalam bidang matematika, mekanik, dan astronomi serta beberapa karya dalam bidang logika diterjemahkan untuk mereka.

Abu Zakariya Yuhanna Ibn Masawaih, seorang tabib yang menerjemahkan beberapa karya Yunani tentang ilmu kedokteran ke dalam bahasa arab, adalah pemimpin pertama dari perpustakaan Bait Al-Hikmah yang didirikan al-Makmun.

Hunain ibn Ishaq (808-877 M), adalah seorang tabib Nestorian, salah satu sarjana hebat dan penerjemah handal pada masanya. Adapun jumlah karya terjemahan yang telah dihasilkannya adalah 95 karya versi bahasa Persia, lima darinya adalah edisi revisi dan 39 versi bahasa arab dari buku-buku Galen dan lainnya. Ia bekerja sebagai seorang penerjemah sekitar lebih dari 50 tahun.

Jumlah dan kualitas karya terjemahan dari ilmu kedokteran yang dihasilkan oleh Hunain dan kelompoknya, menjadi pondasi dari pengetahuan muslim yang mendominasi pemikiran pertengahan hingga abad ke-17, dan kemudian dilanjutkan oleh putranya.

Barangkali Hunainlah sebagai penerjemah terbesar karya-karya klasik, terutama karya Helenistik ke dalam bahasa arab yang boleh jadi terjemahannya sama pentingnya dan sama berpengaruhnya dengan terjemahan karya-karya bahasa arab ke dalam bahasa latin oleh Gerard dari Cremona, selama paruh kedua abad kedua belas. Hunain mempunyai 90 murid penerjemah di bawah pengawasannya.

Dorongan membuat karya-karya terjemahan pada masa kejayaan Islam terlihat dari pemberian bayaran kepada para penerjemah. Hunain, misalnya, ketika diangkat dan sebagai pengawas Bait al-Hikmah, diberikan emas senilai dengan berat buku yang diterjemahkan.

Qusta Ibn Luqa, adalah seorang tabib, ahli astronomi, matematika, filosof dan penerjemah. Ia banyak menerjemahkan dari karya-karya Diophantus, Theodosius, Anatolycos, dan lain-lain.

Hubaish Ibn Al-Hasan, keponakan dari Hunain Ibn Ishaq, menerjemahkan karya-karya Yunani, seperti karya Oribasius, pengarang Ensiklopedia Filsafat. Stephanos, rekan dari Hunain Ibn Ishaq. Menurut Hunain, ia menerjemahkan sembilan buah karya-karya Galen ke dalam bahasa arab. Ia merupakan orang pertama yang
menerjemahkan karya-karya Dioscrides ke dalam bahasa arab dan juga sebagai
penerjemah karya Oribasius.

1 Komentar

  1. nizburg said,

    Waduh, kalo liat posting ini jadi inget buku yang dak jadi kubeli. Kalo gak salah tentang 150 penemu islam. Coba ah besok saya cari lagi. Thanks udah diingatkan lewat posting ini.

    Achmad Nizar
    http://www.nizland.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: