MENIKMATI TEMBANG DI TENGAH ILALANG

September 18, 2008 at 2:47 pm (Buku Islam, Novel, Sejarah) ()

Oleh Izzatul Jannah*

Begitulah kira-kira suasana jagat kecil, saya ketika membaca novel karya MD Aminuddin ini. Saya seperti sedang berjalan-jalan di padang, mendengar lantunan tembang di tengah rimbun ilalang sembari menikmati kesiur angin, dan cericit burung-burung, sesekali terantuk bebatuan yang tertutup ilalang, terpeleset air menggenang yang luput dari pandangan, sesekali menyeruak segar bau pucuk-pucuk ilalang yang menentramkan. Saya ingin berbagi apa yang saya rasakan saat bertualang

Diantara rumpun ilalang kepada Anda. Pesan saya, saya hanya ingin menempatkan diri sebagai seorang penikmat sastra, daripada seorang kritikus di hadapan Anda. Umumnya, saya menilai sebuah karya fiksi itu bagus atau tidak secara intuitif saja, saya serahkan pada otak kanan saya untuk menikmati keseluruhan ide,alur, penokohan,ketegangan, bahasa dan endingnya.

Sehingga standarnya hanya satu: jika saya betah membacanya dalam sekali duduk, dan enggan untuk menghentikannya, maka karya itu BAGUS. Sederhana saja. Saya membaca novel ini dalam perjalanan ke pelosok Sumatra, tepatnya kecamatan Lematang kabupaten Muara Enim, untuk menemui para guru di daerah perambah hutan di dusun Singa.

Menemui para guru yang harus berjalan kaki 3 km bolak-balik setiap hari, dan menyalakan genset seharga 400 ribu rupiah per bulan untuk penerangan dari pukul 11 malam hingga jam 5 pagi. Alhamdulilah, selama di bandara dan perjalanan darat selama 12 jam ke Lematang, saya melahap dua novel ini sekaligus. Ia adalah teman perjalanan yang mempesona, tutur saya pada pengarangnya melalui pesan singkat, saat tiba di penginapan di Muara Enim.

Baiklah, akan saya ceritakan indahnya tembang di padang ilalang, pertama bahasa standarnya yang mempesona. Mari saya kutipkan untuk Anda: Hari masih sangat jauh dari subuh. Asroel memacu simplex-nya dengan kuat. Terlihat otot-otot kaki menegang dari balik kulit yang kering. Matanya awas menembus kabut yang menebal bagi selimut alam. Dalam remang malam itu kadangkala ban sepedanya meliuk-liuk di tanah pasir bagai biduk yang berlayar dalam hempasan gelombang”(hal, 28)

.langit bertabur bintang bagai pernik-pernik permata disulamkan pada kain hitam. Suara orang mengaji mendengung-dengung menirukan ribuan serangga yang bermigrasi dari ladang kering menuju bumi basah..”( hal,141).
Deretan metafora dan simile yang indah ini akan Anda temui di sekujur tubuh novel. Penulis novel ini sungguh berbakat menjadi penyair.

Hal lainnya adalah, dinamisasi alur dan ketegangan novel ini sungguh menggelora. Memadukan romantisme cinta dan perjuangan memang sangat mengasyikkan. Caranya memancing rasa penasaran pembaca sungguh memikat, ini salah satu contohnya:

Benar saja apa yang menjadi kecemasan mereka, peristiwa itu tidak berlalu kosong. Bahkan, kalaulah hendak disebut sebagai sebuah cerita, ini baru mulai babak pertama, dimana para pelakunya mulai memperkenalkan lakon yang harus dimainkan. Dan ini yang mula-mula tidak disadari Kjai Makoen. (hal.37)

Rupanya sang pengarang tidak hanya berbakat menjadi penyair, tetapi juga pencerita ulung. Sebab, sebuah novel yang memiliki struktur bahasa yang bagus dan puitis, umumnya tidak mampu menghadirkan pengusir rasa bosan pembacanya dari lanturan-lanturan bahasa yang mungkin terasa bertele-tele. Jadi, bersiap-siaplah Anda untuk ikut merasakan ketegangan Asroel yang tak kunjung juga berhasil menemukan istrinya, atau Siswohadi dan Arij de Haan alias Larto yang dimain-mainkan nasibnya oleh sang pengarang. Nuansa sejarah dan penjajahan Belanda, gerakan rakyat sebelum proklamasi kemerdekaan pun sangat terasa, ditandai dengan gaya penulisan ejaan lama, dan dialog khas masa lalu.

Demikianlah, sangat tidak elok, jika saya hanya menceritakan manis-manisnya saja pada Anda, demi menghamba pada keinginan penerbit agar Anda membeli novel ini. Saya juga harus menyampaikan duka laranya, bertualang di padang ilalang ini pada sang pengarang, sebagai bukti takzim saya kepadanya.

Marilah kita mulai. Novel yang di sampulnya tertulis testimoni beberapa tokoh sastrawan seperti Pak Taufik Ismail dan Kang Irfan Hidayatullah, yang hampir senadanya menyatakan tentang upaya novel ini mengawinkan sastra dan sejarah, maka saya mengamini bahwa ini adalah karya yang menggunakan bahasa sebagai alat untuk mensubyektifikasi sejarah, adakah sejarah yang netral?

Kata Jorn Rusen, ”Neutrality is the end of history”. Sehingga walaupun sah-sah saja Tan Malaka dipinjam karakternya oleh sang pengarang untuk menggambarkan tokoh utama dari novel ini yakni Asroel, digambarkan bahwa Asroel adalah seorang muslim yang taat, sehingga sempat shalat subuh ditengah pelariannya, meski tidak demikian adanya barangkali Tan Malaka. Tetapi nampaknya, pengarang harus lebih banyak lagi membaca siapa Tan Malaka, alias Sutan Ibrahim itu.

Tan Malaka perintis partai Murba, seorang yang keras, tegas, revolusioner dan radikal, ia memotori gerakan rakyat dan pendidikan rakyat di sebuah perkebunan di Deli. Saya bahkan merasa, karakter Tan justru teridentifikasi pada Siswohadi. Asroel terlalu lembut untuk mewakili karakter Tan Malaka. Tulisan Tan Malaka tentang Gerpolek, Gerakan Politik Ekonomi, mencerminkan karakter Tan yang radikal, tanpa kompromi, mungkin perlu dibaca lagi.

Saya pikir, karakter ini menjadi lemah ketika digambarkan saat Asroel menangis dihadapan istrinya, dan justru Roekmini, istrinya yang memberikan nasihat kepadanya, ”Pejuang pantang menangis” (hal.46). Dan secara subyektif saya melihat pemilihan nama Asroel, bagi tokoh utama ini mewakili karakternya yang kurang digarap dengan baik. Siswohadi adalah nama yang sesuai dengan karakternya, Darsono boleh jadi mewakili Darsono yang tokoh PKI sezaman dengan Semaun dan Musso, licik, licin dan kejam. Sungguh sayang, justru Asroel, sang tokoh utama penokohannya kurang kuat.

Hal lain adalah masalah narator. Pada awalnya, saya begitu lancar bertualang di tengah padang, sejenak saya tersesat dalam gelap rimbun ilalang, saat sang pengarang dengan semena-mena mengganti narrator menggunakan kata ganti orang pertama yakni kata “saya”, pada halaman 186. Seperti seorang yang sedang menikmat segelas jus, saya tersedak karenanya. Boleh jadi, Aminudin sang pengarang mencoba mengikuti keahlian Umar Kayam menghidupkan tokoh-tokoh dalam novel Para Priyayi dengan berganti-ganti narator, atau Ayu Utami dalam Saman dan Larung yang dengan mulus berganti-ganti pusat penceritaan dengan menggunakan kata ganti yang berbeda-beda, kadang menggunakan kata ’aku’ untuk tokoh tertentu, dan ’saya’ untuk tokoh yang lain.

Baiklah, nampaknya saya sudah sampai pada akhir. Ada beberapa lagi yang mengganggu logika cerita, seperti luka tembak Larto -saat baku tembak dengan van Moore- yang berpindah-pindah, mula-mula di dada kanan (asumsi saya saat membacanya, Larto pasti sudah mati), berpindah ke bahu sebelah kiri
Larto roboh dengan sebuah lubang menembus bajunya, mengenai dada sebelah kanan (hal.266)

Siapakah gerangan orang ini? Siapakah yang melakukan ini semua? Luka tembak yang bersarang di bahu kiri tubuh itu, sebenarnya sedikit memberi petunjuk.. (hal.294)

Satu hal yang sering lupa dilakukan oleh seorang pengarang adalah membaca ulang dengan sangat teliti karyanya sendiri, dan itu tidak cukup dilakukan sekali saja, melainkan berkali-kali, seperti membaca surat dari seorang kekasih, sehingga akhirnya terngiang di telinga dan terbayang-bayang di mata.

Terakhir, hanya satu pertanyaan saja. Apakah mungkin seorang yang sudah amengapung di sungai masih hidup? Dramatisasi yang kurang tepat menurut saya, seperti melihat film sinetron Indonesia, sudah mati, tiba-tiba hidup lagi, tanpa dukungan deskripsi logika yang memadai.

Demikianlah, saya ini penikmat saja, sudah lama saya tidak menulis cerita. Jadi, jangan percaya pada tulisan saya, buktikan saja, dengan membeli bukunya. Sekali lagi, beli. Jangan hanya meminjam saja.
Terimakasih.

*Pengarang, anggota majelis penulis FLP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: