Kontribusi Penerjemah Di Zaman Keemasan Islam

September 18, 2008 at 3:32 pm (Buku Islam, Sejarah, Uncategorized) ()

Oleh M.IQBAL DAWAMI

Salah satu hal yang paling signifikan dalam zaman keemasan Islam adalah ilmu pengetahuan, di mana pada waktu itu semua ilmu pengetahuan telah dikuasai dengan baik, di antaranya dalam hal sain, filsafat, kedokteran, maupun sastra.

Hal yang paling penting untuk dipertanyakan kemudian adalah mengapa sebegitu maju dan berkembangnya ilmu pengetahuan pada masa itu? Faktor-faktor apa saja yang bias memunculkan potensi keemasan Islam pada zaman tersebut? Pertanyaan inilah yang akan saya coba menjawabnya melalui tulisan ini.

Kekhalifahan Abbasiyah

Kemunculan khalifah Abbasiyah pada masa pertengahan abad kedelapan menandai dimulainya era budaya dan ilmiah yang bukan hanya untuk Islam saja, tetapi juga untuk umat manusia, sebuah masa di mana kegiatan belajar dan kegiatan ilmiah tumbuh dengan intensif.

Dengan berlangsungnya penaklukan-penaklukan teritorial, maka tersedialah sumber-sumber daya (baik SDA mapun SDM) yang memadai bagi orang-orang Arab. Ketika akademi Plato ditutup tahun 529 M, banyak sarjana Yunani yang pergi ke Persia. Dan satu abad kemudian, pengetahuan Yunani yang tumbuh di sana menjadi bagian dari kekuasaan Islam.

Arab telah membangun hubungan dengan Byzantium-Yunani. Bahkan salah seorang khalifah Abbasiyah, yaitu al-Ma’mun, membuat sebuah syarat perjanjian perdamaian dengan kaisar Byzantium bahwa beberapa naskah Yunani harus diserahkan ke Ibu kota Kerajaannya. Mesir, yaitu sebagai pusat pengetahuan Yunani pada zaman Alexandria, juga telah berada di bawah kekuasaan muslim.

Jadi, bekas pengetahuan Yunani yang masih ada disumbangkan pada aktifitas intelektual. Di samping itu, sarjana Syiria di Antiokia, Emesa, dan Damaskus maupun Edesa, pusat-pusat penyimpanan ilmu pengetahuan Yunani semua berada di bawah kekuasaan bangsa Arab. Secara keseluruhan, bangsa Arab telah mengendalikan atau memiliki akses terhadap budaya kekaisaran Byzantium, Mesir, Syiria, Persia, dan India.

Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad menjadi patron besar dalam ilmu pengetahuan dan mengundang para ahli ke istana, tanpa menghiraukan kebangsaan atau agama mereka. Karakteristik aktifitas intelektual yang unik selama periode Islam adalah pengembangan ilmu pengetahuan yang tidak hanya terbatas di kalangan para imam. Demikian pula, ilmu pengetahuan tidak menjadi hak istimewa para raja.

Pendidikan yang diperuntukkan pada pengolahan kebenaran dan pengetahuan tetap dapat dimasuki oleh semua strata yang berbeda dalam masyarakat Islam. Dalam hal inilah penghargaan patut diberikan bagi penguasa muslim sesudah periode penaklukan, mereka bersikap terbuka terhadap seluruh masyarakat. Sekitar tahun 772 M, istana khalifah al-Mansur dikunjungi oleh seorang astronomi Hindu dari Sind yang memberinya sebuah tabel astronomi.

Semenjak itulah ilmu astronomi mulai bergejolak dipelajari. Baghdad tumbuh sebagaipusat perdagangan dan intelektual selama peradaban Islam. Dalam kurun waktuyang dimulai tahun 750 M, ilmu-ilmu pasti diolah di sekitar ibu kota dengan lebihintensif. Sehubungan dengan adanya sejumlah besar ilmuan yang bekerja, puncak kegiatan dapat tercapai, pada tingkat yang tidak pernah diraih pada masa-masa sesudahnya di abad pertengahan.

Meskipun bahasa lain diizinkan, bahasa Arab yang juga bahasa al-Qur’an, menjadi lingua-franca di seluruh wilayah kekhalifahan Abbasiyah. Pada masa pemerintahan kekhalifahan Harun al-Rasyid dibangun perpustakaan di Baghdad di mana seseorang dapat menemukan karya-karya asli dari bahasa Yunani, Sansekerta, dan Persia serta terjemahan dari masing-masing bahasa tersebut.

Segera sesudah itu, aliran ilmu pengetahuan kuno mulai memasuki negeri muslim sebagai hasil aktifitas penerjemahan yang sistematis dan intensif. Sebagaimana ayahnya, al-Ma’mun juga merupakan patron ilmu pengetahuan yang handal. Ia mendirikan lembaga riset yang disebut “Baitul Hikmah”. Didukung keuangan Negara, lembaga ini menarik ilmuan dan sarjana terutama para penerjemah yang berkompeten.

Mencari Akar Peradaban Islam Dalam Ilmu Pengetahuan Di bawah ini, setidaknya ada empat hal yang menjadi akar atau potensi munculnya peradaban Islam dalam hal ilmu pengetahuan: Pertama, di tengah kemunduran Yunani dan munculnya Islam berkembanglah sebuah kebudayaan yang memainkan peranan penting setelah kebudayaan Yunani dan juga merupakan sebuah perpaduan dari elemen-elemen timur yaitu peradaban Helenisme yang mulai muncul di permukaan setelah 300 SM.

Tempat yang menjadi pusat intelektualnya adalah Alexandria, di mana sebuah institusi penelitian yang besar, de museum telah dibangun. Dari institusi ini peradaban Helenisme berkembang ke segala penjuru dan secara signifikan memengaruhi orang-orang yang berhubungan dengannya, seperti orang-orang Mesir, Syria, Persia dan Arab. Filsafat Yunani mengalami stagnasi sejak tahun 529 M seiring dengan penutupan akademi Athena secara resmi oleh Justianian.

Banyak dari para filosof neo-Platonik yang meminta perlindungan terhadap penguasa Persia, yaitu Kisra Anushirwan.Peristiwa migrasi ini merupakan hal kedua bagi permulaan penyebaran pengetahuan Yunani ke wilayah-wilayah luar lainnya, yaitu salah satunya Arab.

Ketiga, adalah akademi Jundishapur di Persia, sebuah akademi yang menjadi pusat pertukaran dan sinkretisme pengetahuan terbesar pada abad ke-7 M. Institusi ini menjadi surga bagi para Nestorian (pengikut Nestorius) yang diusir dari Edessa pada tahun 489 M dan juga bagi para Platonis yang terusir. Para Nestorian itu membawa bersama mereka ke Jundishapur terjemahan-terjemahan Syiria dari berbagai macam karya, khususnya karya-karya dalam bidang pengobatan.

Di Jundishapur pula Kisra Anushirwan memerintahkan penerjemahan karya-karya Aristoteles dan Plato ke dalam bahasa Persia. Ia mengirim para dokter ke India untuk mencari manuskrip-manuskrip dan mereka kembali tidak hanya dengan membawa
berbagai macam karya pengobatan tapi juga permainan catur serta fabel-fabel.

Keempat, adalah aktifitas para Nestorian. Pada pertengahan pertama abad kelima Masehi, pendeta Syiria, Nestorius dipecat dan diusir dari kota Antioch ke wilayah Arab dan kemudian ke Mesir. Para pengikutnya dengan tulus dan penuh dedikasi mereka pindah sambil mengajarkan ilmunya ke wilayah timur, tepatnya ke kota Edessa, di mana terdapat sebuah akademi kedokteran yang sedang berkembang di sana. Akademi itu menjadi pusat bagi aktifitas Nestorian dan memperoleh dukungan dari akademi Nisbis di Mesopotamia dan juga oleh akademi Jundishapur.

Banyak karya-karya Yunani tentang Matematika dan kedokteran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Syiria oleh para Nestorian yang karena paham Polyglotisme (sebuah
paham yang mewajibkan dirinya untuk bisa beragam bahasa) yang mereka anut, pekerjaan ini menjadi sangat cocok bagi mereka. Mereka memiliki peranan yang besar dalam menjadikan Islam sebagai agama yang dapat berada di barisan terdepan dalam budaya dan sains.

Sejak itulah kemudian ilmu pengetahuan muslim muncul ke permukaan dan terkemuka dalam sepanjang sejarah. Periode ini merupakan era pencerahan bagi dunia Selain hal-hal di atas, munculnya akar peradaban Islam boleh jadi lantaran semangat
keagamaan yang tinggi dalam memajukan ilmu pengetahuan, karena ayat suci
al-Qur’an sendiri telah memotivasi kaum muslimin agar mereka selalu membaca dan
membaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: