FPI Perlu Meniru Strategi Natsir

September 3, 2008 at 4:08 pm (M. Natsir, Strategi) ()

Oleh Asrori S. Karnig

Hasil penelitian lapangan tentang FPI. Menyelami tarik-menarik antara komitmen moral, godaan finansial, dan friksi internal. Ekspresi kekerasan ala FPI cenderung berumur pendek. Strategi dakwah damai gaya
Natsir lebih efektif dan tahan lama.

Membaca undangan bedah buku Hitam Putih FPI di sebuah milis, seorang jurnalis yang biasa memandu talkshow di salah satu televisi swasta bereaksi spontan. “Hitam-putih FPI? Emang-nya FPI ada putihnya?” ujar pria berkacamata minus itu, dengan senyum sinis.

Ketika diskusi buku itu berlangsung di Gedung Gatra, Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis 14 Agustus lalu, seorang peserta berkerudung juga memprotes judul buku itu. Tapi dengan angle berbeda. “Aksi FPI selalu
putih, tidak ada hitamnya,” katanya, membela FPI.

FPI –kependekan dari Front Pembela Islam– adalah organisasi yang berpusat di Jakarta, yang dikenal luas lantaran lantang merazia tempat hiburan. Mei lalu, FPI kembali jadi sorotan pada saat terjadi insiden
di Monas. Ketua FPI, Habib Rizieq Shihab, sampai ditahan polisi untuk kedua kalinya. Kini ia tengah menjalani proses pengadilan.

Mengkaji gerakan sosial sarat pro dan kontra macam FPI rupanya harus siap menanggung reaksi pro-kontra pula. Walaupun diniatkan seimbang, bagi yang kontra-FPI, buku itu dinilai lunak. Bagi yang pro-FPI, buku
itu dianggap menyudutkan. “Reaksi pro-kontra itu saya anggap risiko,” kata Andri Rosadi, penulis buku yang diangkat dari tesis master di Jurusan Antropologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu. “Studi
ini untuk memahami FPI, bukan menghakimi.”

Pada saat penelitian, Andri membaur dalam pengajian rutin FPI, berinteraksi dengan anggota, mendalami kehidupan pribadi mereka, dan mengamati cara habib mengatasi pengaduan jamaah, mulai agenda
organisasi sampai urusan pribadi. Andri mendapat gambaran model kepemimpinan Habib Rizieq yang penuh human interest. Bisa dipahami bila loyalitas anggota amat kuat.

“Habib itu orang paling bijak di muka bumi,” ujar Tarmidi, anggota FPI asal Jakarta Utara yang menghadiri diskusi di Gatra. Dalam penelusurannya, Andri menemukan anggota yang semula antipati pada FPI
akibat pencitraan media, tapi setelah menyaksikan langsung ceramah Habib Rizieq berubah jadi terpesona.

Tipologi anak muda yang menjadi anggota FPI juga teridentifikasi. Sebagian pemuda yang diwawancara mengaku termotivasi masuk FPI karena haus agama. Kehidupan mereka sebelumnya jauh dari panduan agama. Ada mantan pemuda nakal dan pernah dipenjara akibat perkelahian. Ia mengaku tertarik masuk FPI karena nalurinya sebagai petarung cocok dengan watak FPI yang lugas menindak.

Secara sosial, FPI tidak dilihat sebagai simpul yang berdiri sendiri, melainkan ditempatkan secara bertalian dengan elemen lain: negara dan masyarakat sipil. Aksi kekerasan FPI tidak hanya dibaca sebagai ekspresi problem internal FPI, juga cermin bahwa ada masalah di level negara. Misalnya, lemahnya penegakan hukum. Juga ada masalah di tingkat masyarakat, antara lain maraknya penyakit sosial.

Salah satu sumbangan orisinal buku ini adalah temuan friksi internal antara apa yang oleh sebagian anggota FPI diistilahkan sebagai “kelompok hitam” dan “kelompok putih”. Terjadi rivalitas antara dua kelompok ini pada lapis kedua di bawah Habib Rizieq. Kelompok hitam dikatakan berisi kalangan oportunis yang suka mengambil keuntungan pribadi di tengah aksi FPI.

Bila kehidupan ekonomi oknum oportunis itu mulai mapan, biasanya mulai malas terlibat aksi. Bila tidak kuat dengan komitmen moral, godaan finansial anggota FPI amat menggiurkan. “Kalau saya mau jual diri, dua bulan di FPI saya sudah bisa punya mobil mewah. Saya tidak mau begitu,” kata Tarmidi, anggota FPI yang berkunjung ke Gatra. “Sudah sembilan tahun di FPI, saya masih pakai motor, kredit belum lunas.
Tapi saya merasa lebih terhormat.”

Dengan cara pandang berbasis pemahaman friksi internal itu, sinyalemen bahwa sejumlah pengusaha hiburan diperas FPI diduga adalah akibat ulah “kelompok hitam” tadi. Mereka bergerak di luar kendali organisasi. Pembersihan internal untuk menggulung penunggang gelap itu, kata Tarmidi, beberapa kali dilakulan. Bahkan Laskar FPI sempat dibekukan, semata untuk pembersihan tadi.

Yudi Latif, pembedah buku, menilai, sebagai penelitian sosial, buku itu berada dalam tradisi verstehen (berempati pada objek). “Tugas penelitian sosial tidak memberikan stempel hitam atau putihnya
gerakan,” kata doktor sosiologi politik itu. Tapi bagaimana kita memahami. Paham tidak berarti setuju.

Kritik Yudi, buku itu kurang mendalami akar sosial FPI. Tiga fase perkembangan yang banyak dipakai dalam studi gerakan sosial –tahap persiapan (gestation), pembentukan (formation), dan konsolidasi
(consolidation) , kata Yudi, tidak diulas secara mendalam. Bila hal itu didalami, akan mempermudah memprediksi masa depan FPI.

Ada dua catatan Yudi melihat kemunculan FPI. Pertama, FPI dibaca sebagai residu ingatan pahit di masa lalu. “Dalam banyak gerakan sosial di Indonesia, ingatan pedih ke belakang sangat powerful melahirkan gerakan radikal,” ujar Yudi. Tiap pergantian rezim, sejak masa kolonial, banyak ingatan pedih belum diselesaikan. Akibatnya berkepanjangan dan menjadi sumber identitas baru.

Kedua, FPI dinilai sebagai cermin masyarakat plural. Dalam latar demikian, agama menjadi jangkar identitas. Hal itu kian efektif ketika terjadi pergeseran dari pemerintahan otoriter menjadi pemerintahan tanpa otoritas. Eksesnya, negara kehilangan daya melindungi warga, lalu anarki di depan mata. FPI lahir dalam situasi demikian, ketika negara dipandang tidak menjalankan layanan publik dengan baik.

“FPI harus dibaca secara simptomatik, bagian dari gejala patologi sosial masyarakat kita yang tanpa otoritas,” kata Yudi. “Tanpa ada penyelesaian persoalan mendasar dan manajemen kekuasan ambruk,
sehingga orang mencari jalan sendiri-sendiri. ”

Adian Husaini, pengulas yang lain, lebih banyak mengkritik. “Buku ini katanya untuk memahami FPI, bukan menghakimi. Itu hanya basa-basi. Buku ini menghakimi,” ujar Adian. “Saya berharap, ada teori sosial
baru tentang fundamentalisme. Ternyata tidak ada.”

Buku itu, di mata Adian, justru menambah stigmatisasi FPI. Adian mengkritik ulasan Andri bahwa Habib Rizieq dalam pemikiran fikih bersifat moderat karena menganut mazhab Syafi’iyah, tapi dalam soal akidah bersifat tegas akibat pengaruh Wahabisme, mengingat Rizieq pernah kuliah di Saudi.

Adian menunjukkan buku I’tiqad Ahlussunnah Waljamaah (aswaja) karya Siradjuddin Abbas yang dirujuk buku Andri. Buku Siradjuddin itu anti-Wahabi, kata Adian, tapi juga tegas dalam isu akidah. “Jangan setiap yang tegas soal akidah dibilang Wahabi,” tutur Adian.

Ia mempersoalkan rujukan Andri ketika menyimpulkan bahwa konseppolitik aswaja tidak bisa kritis pada penguasa. Sehingga sikap keras FPI pada penguasa dianggap menyimpang dari teologi aswaja yang dianutnya.

Kritik Adian membuat para penanya, yang sebagian besar simpatisan FPI dan belum membaca lengkap isi buku itu, meminta buku tersebut ditarik dari peredaran. Ada pula yang menyoal tiadanya wawancara langsung dengan Habib Rizieq, tapi hanya merujuk pada buku karya Rizieq. Andri sendiri berkomitmen mengoreksi yang keliru dan melengkapi yang kurang.

Akhirnya, Yudi Latif menutup diskusi dengan merenungkan efektivitas jalan kekerasan dalam gerakan keagamaan. Tingkat ketahanan gerakan demikian, kata Yudi, biasanya tidak lama. Ekspresi kekerasan sering
menyisakan konflik internal, rentan politisasi, dan penyusupan penunggang gelap (free rider). “Gerakan kekerasan paling mudah dimasuki penetrasi intelijen,” katanya.

Yudi mengingatkan jalan Mohammad Natsir, pemimpin Masyumi. Natsir punya gagasan negara Islam, tapi selalu berkomitmen memperjuangkannya lewat jalur konsensual. Ketika menjumpai Darul Islam yang menggunakan senjata, Natsir menolak. Masyumi kemudian dipatahkan. Natsir bilang, tidak masalah patah secara politik, ia mengubah strategi dengan mendirikan Dewan Dakwah.

“Lewat jalur dakwah, perjuangan kami akan menang,” kata Natsir. Melalui jalan dakwah secara damai, ia semaikan Islamisasi di kampus-kampus terkemuka yang tadinya dikenal sekuler. Islamisasi berikutnya merambahi birokrasi. Natsir memilih filosofi garam ketimbang gincu.

Garam yang larut dalam air tak terlihat, tapi terasa. Sedangkan gincu, walau terlihat mencolok, rasanya hambar. “Harus ada perubahan modus perjuangan FPI,” tutur Yudi. “Kita apresiasi semangatnya, tapi
bagaimana semangat itu tidak backfire bagi perkembangan FPI sendiri.”

Asrori S. Karnig

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: