Muslim yang saleh, warga Inggris yang baik

Agustus 21, 2008 at 9:06 am (Inggris, Muslim) ()

Sumber : BBC Indonesia, Diperbaharui pada: 19 Agustus, 2008 – Published 16:00 GMT

Warga muslim berdemo
Kewarnegaraan juga membahas kebebasan berpendapat

Sejak peristiwa 7 Juli 2005, pemerintah Inggris mulai berusaha menanamkan nilai-nilai kewarganegaraan Inggris kepada para pelajar Muslim Inggris, tanpa menanggalkan iman mereka.

Kepentingannya adalah agar warga Muslim Inggris tidak terlibat dalam paham-paham radikal yang membuat empat pemuda Muslim Inggris melakukan pengeboman di negara mereka sendiri.

Di kota Bradford, Inggris Utara, seorang pemuda keturunan Pakistan lulusan Universitas Oxford bernama Sajid Hussain menyusun kurikulum kewarganegaraan Inggris untuk sekolah umum dan madrasah.

Bradford merupakan salah satu kota tujuan para pendatang Muslim yang datang dari Pakistan pada tahun 1950an dan 1960an.

Pemerintah Inggris mendatangkan mereka untuk bekerja di pabrik-pabrik tekstil.

Enam belas persen populasi Bradford yang berjumlah sekitar 500,000 jiwa adalah warga Muslim yang sebagian besar berasal dari Pakistan.

Karena populasi warga Muslim lebih muda dari warga Inggris pada umumnya, persentase siswa Muslim di Bradford lebih besar lagi, lebih dari 30 persen.

Sejak tutupnya industri tekstil di Bradford, perekonomian kota ini merosot . Entah ada kaitan langsung atau tidak, pada tahun 2001 kota ini dilanda kerusuhan yang bersifat SARA.

Kerusuhan yang lebih kecil juga pernah terjadi pada tahun 1995. Jauh sebelumnya, ketika buku Ayat-Ayat Setan karya Salman Rushdie diterbitkan pada tahun 1989, Bradford menjadi pusat pembakaran buku itu.

Silabus Kewarganegaraan

Sajid Hussain adalah bekas guru sekolah menengah yang sekarang menjadi konsultan pendidikan.

Warga muslim ikut mengenang korban serangan 7 Juli 2005
Warga muslim ikut mengenang korban serangan 7 Juli 2005

Dia mencetuskan ide untuk menyusun kurikulum kewarganegaraan praktis.

Sajid kemudian mendirikan sebuah yayasan bernama Nasiha atau nasehat, di rumah orang tuanya di Bradford, Sajid memberi contoh salah satu modul pelajarannya tentang budi pekerti.

Sajid selalu mendasarkan pelajarannya dengan ayat-ayat Al Qur’an karena gaya penyampaian semacam ini disukai oleh para imam dan guru madrasah.

Kemudian dia menambahnya dengan teknik-teknik pengajaran modern yang seringkali tidak dikuasai para guru madrasah.

Sekarang silabus ini sudah dipakai oleh 400 sekolah umum dan madrasah di Inggris Utara.

Tidak semua kalangan Islam sreg dengan gagasan pemerintah Inggris ini. Ada yang merasa bahwa golongan Islam diperlakukan beda dan harus diajar soal kewarganegaraan, akibat ulah segelintir orang.

Akan tetapi Dr Musharraf Hussain, seorang imam sekaligus kepala sekolah Islam di kota Nottingham, berpendapat bahwa pendidikan kewarganegaraan merupakan agenda penting bagi kaum Muslim Inggris.

“Kewarganegaraan menyangkut hak dan kewajiban kita. Kita harus mengajar anak-anak kita tentang hak mereka sebagai warganegara Inggris. Sekolah saya sudah 10 tahun mengajarkan kewarganegaraan.”

Kewarganegaraan merupakan agenda ummat Islam. Kalau pemerintah mendorong hal ini, kami dukung
Dr Musharraf Hussain

“Kewarganegaraan merupakan agenda ummat Islam. Kalau pemerintah mendorong hal ini, kami dukung,” kata Dr Musharraf yang juga menjadi ketua UK-Indonesia Islamic Advisory Group untuk Inggris.

Lewat silabus kewarganegaraan praktis ini, Sajid ingin mencapai tujuan yang lebih besar. Agar anak-anak keturunan Pakistan ini lebih terlibat dalam kehidupan masyarakat Inggris secara keseluruhan.

“Silabus ini menekankan perlunya partisipasi dalam kehidupan masyarakat, untuk bekerja sebagai relawan, ikut dalam proses politik, dalam pemilihan umum.”

“Kami juga memberi pesan kepada anak-anak muda Muslim agar mereka lebih bersahabat dengan anggota masyarakat dari komunitas lain dan agama lain,” kata Sajid Hussain.

Lepas dari keinginan pemerintah Inggris untuk memperkuat perasaan kebangsaan, peneliti dari Pusat Studi Islam Universitas Oxford, Dr Tahir Abbas, yakin bahwa penguatan etos pendidikan di kalangan Muslim keturunan Pakistan, merupakan solusi jangka panjang untuk menyamakan status ekonomi ekonomi mereka.

“Masalah pendidikan harus beres, karena pendidikan merupakan tiket menuju pekerjaan dan masa depan yang lebih baik.”

“Di Inggris Utara dan sebagian wilayah Inggris Tengah ada masalah besar karena banyak anak-anak keturunan Pakistan yang tidak lulus sekolah menengah. Ini bisa membuat mereka tertinggal seumur hidup,” kata Tahir Abbas.

Prestasi pendidikan anak-anak keturunan Pakistan di Inggris memang lebih rendah dari komunitas yang lain.

Identitas Islam

Pengajaran kewarganegaraan praktis bagi anak-anak Muslim di Bradford berawal dari ketakutan pemerintah Inggris bahwa pemuda Muslim akan terpengaruh ide-ide Islam radikal.

Warga muslim di Inggris
Ada rencana pelajaran tata nilai Inggris untuk warga muslim

Peristiwa yang sama dipakai oleh Sajid Hussain untuk mengajar anak-anak Muslim agar lebih percaya diri pada identitas keislaman mereka.

“Sasaran utama saya pribadi adalah agar anak-anak muda Islam tidak malu pada identitas keislaman mereka. Sekarang ini kesan yang kuat adalah menjadi Muslim merupakan citra negatif.

“Sebenarnya pemuda Islam harus bangga dengan asal usul mereka. Kurikulum kewarganegaraan ini membantu mereka mengerti bahwa nilai-nilai luhur yang dipegang oleh masyarakat Inggris, juga merupakan nilai-nilai agama mereka.”

“Jadi supaya mereka lebih percaya diri diri dan membaur dengan masyarakat yang lebih luas. Selain itu memberi penjelasan kepada mereka bahwa nilai-niai yang sudah dibajak oleh golongan ekstremis, tidak punya tempat dalam ajaran Islam.”

Setelah menyusun kurikulum kewarganegaraan ini, Sajid Husaain bercita-cita membuat silabus sejarah Andalusia, dengan bantuan pemuka komunitas Yahudi dan Kristen di Bradford.

Dengan demikian katanya, anak-anak tidak hanya belajar soal perang dan konflik tetapi agar mereka juga tahu tentang zaman ketika tiga kelompok agama di Spanyol hidup damai dan menghasilkan peradaban yang luhur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: