Apa Perjalanan Mengubah Dirimu?

Agustus 11, 2008 at 5:24 pm (Uncategorized) ()

Oleh Anwar Holid

DALAM JARAK agak berdekatan, baru-baru ini dua orang penulis sama-sama melahirkan buku tentang perjalanan. Pada awal Mei Sigit Susanto meluncurkan Menyusuri Lorong-Lorong Dunia, Jilid 2 (Insist Press), sementara di akhir bulan Marina Silvia K meluncurkan Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar (GPU). Sigit melakukan safari dari kota ke kota di Jawa untuk mempromosikan bukunya ditemani sejumlah kawan komunitasnya, sementara Marina meluncurkan buku di Kinokuniya, ditemani Putri Indonesia 2007, Kamidia Radisti.

Meski sama-sama merupakan hasil perjalanan (travel writing), mereka berdua punya kekhasan yang membuat dua buku tersebut punya keunikan masing-masing. Sigit Susanto melakukan perjalanan ke kota-kota benua Eropa (Swiss, Irlandia, Portugal, Hongaria), Afrika (Maroko), Asia (Vietnam, Cina.) Marina Silvia sejak awal fokus menuju Eropa, berhasil menjelajahi puluhan kota, baik yang terkenal maupun namanya belum pernah terdengar sebelumnya. Sigit selalu berangkat bareng istrinya, sementara Marina berangkat sendiri, namun dia punya teman hampir di setiap kota yang disinggahinya. Sigit memanfaatkan jasa biro perjalanan, sementara Marina memanfaatkan komunitas di sebuah situs backpacker. Istilahnya, dia menggunakan “jalur pertemanan.”

Pengemasan buku mereka pun kecenderungannya lain. Marina sangat mengandalkan unsur visual (pandangan), foto bertebaran di setiap halaman, dan ditata ala menulis blog. Sementara Sigit jauh lebih serius; di tiap awal bab dia memuat rute perjalanan, dan di akhir bab memuat sedikit foto hasil lihat-lihat. Yang paling mencolok tentu saja cara bertutur. Marina seperti tengah duduk di depan pembacanya, menceritakan seluruh jurnal perjalanannya yang warna-warni. Sementara Sigit memaparkan panjang lebar pengamatannya ditambah drama-drama kecil yang terjadi dalam perjalanannya. Ketertarikannya yang besar pada sastra, politik, dan budaya menolong dia mendapat informasi yang sangat kaya.

SIGIT DAN MARINA merupakan contoh pejalan yang memanfaatkan kemajuan teknologi dalam dunia turisme dan jalan-jalan, memperlihatkan bahwa perjalanan mereka disiapkan sebaik mungkin agar berlangsung terencana, menyenangkan, selamat, maknawi. Marina bahkan sangat menekankan pentingnya Internet, agar dia tetap bisa berhubungan dengan keluarga, teman, kenalan, dan mengisi blog. Mereka berdua bukan petualang dalam arti nekat menghadapi bahaya atau menempuh alam liar dan asing nan mengerikan. Tapi itu jelas bukan suatu kekurangan, karena tujuan perjalanan itu bukan gagah-gagahan, melainkan mendapatkan pengalaman baru yang boleh jadi bakal terjadi sekali seumur hidup dan karena itu pasti sulit dilupakan.

Marina membuktikan dengan uang seribu dolar (kurang dari sepuluh juta rupiah), dia bisa keliling Eropa selama enam bulan. Bagaimana dia bisa mengumpulkan uang segitu? Tentu dengan kerja keras, menabung, cari-cari proyek. Waktu itu dia masih kuliah tahun akhir di ITB. Di Swiss, Sigit menyisihkan pendapatan dari kerja di restoran membuat hamburger sekaligus jadi tukang kebun.Dia terutama ditolong oleh sistem kerja, sosial, dan politik agar tetap bisa menabung, lantas memanfaatkan waktu libur, mendapat cuti, kemudian kembali lagi dengan selamat.

Seru perjalanan lebih karena pengalaman membuka mata dan hati terhadap hal baru, termasuk yang boleh jadi bisa membuat gegar budaya. Marina bertemu dengan puluhan host istimewa, yang menguji keterbukaan diri sendiri juga iman. Sigit pernah mendapat perlakuan rasis ketika menginap di Cina.

NAMUN entah kenapa dalam kepala saya muncul rasa sayang dan agak sedih karena ternyata tempat, kota, dan negeri kita sendiri masih jarang ditulis bahkan oleh warga sendiri. Boleh jadi ini ironik, sekaligus melahirkan tantangan. Bukankah tempat tinggal kita sendiri pun boleh jadi sama menariknya dengan setiap tempat di manapun kalau kita bisa menemukan hal terbaik yang layak diceritakan? Salah satu alasan paling kuat untuk menulis tentang diri kita sendiri—budaya, keyakinan, adat, dan lain-lain— ialah fakta ternyata orang lain kadang-kadang malah duluan menulis tentang diri kita.

Di Among the Believers dan Beyond Belief, V.S. Naipaul menulis tentang kaum Muslim Indonesia berkat perjalanannya ke Jakarta, Bandung, Jogja, dan sejumlah kota lain. Norman Lewis pada 1990 menulis perjalanannya ke Wamena, Papua (dulu masih Irian Jaya), bertemu suku Dani yang mengenakan koteka sebagai pengalaman terhebat yang pernah dia lakukan, karena dia menyaksikan masyarakat yang lain sama sekali dengan dirinya. Gola Gong duluan melakukan dan menulis hal itu dalam avonturirnya ke Indonesia Timur selama 1986. Sebagai warga yang kenal betul tempat sendiri, kita bahkan mungkin bisa menceritakan sudut-sudut yang tak terlihat mata orang lain dan masih luput dari pengamatan GoogleMap.

Orang bisa memilih perjalanan yang lebih selamat dan menyenangkan, kalau perlu penuh kenang-kenangan dan oleh-oleh. Perjalanan Marina dan Sigit tampak sulit dibantah memang bisa mengubah pandangan dan pikiran seseorang akan orang lain, budaya, bahkan hidup itu sendiri. Mereka meneropong kehidupan, menangkap detil, menggali khazanah yang pernah dilahirkan manusia, berikut potensi ancaman, konflik, maupun sisa-sisa kehancuran, lantas membagikan pada orang lain.[]

CATATAN: Kolom ini awalnya dimuat di Selisik, Republika Minggu, 29 Juni 2008. FYI, Kanisius akhir 2007 menerbitkan Di Jawa, Petualangan Seorang Antropolog karya Niels Mulder. Buku ini memang mayoritas berisi pengalaman kenapa dan bagaimana dia bisa tertarik hidup di Jawa, tapi pengalaman dia selama ada di tempat lain di Indonesia juga terungkap di sana-sini. Idealnya, ketiga buku ini diresensi masing-masing, bukan keroyokan seperti ini.

Anwar Holid, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku.
Kontak: (022) 2037348 | wartax@yahoo. com | 08156140621 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

4 Komentar

  1. Toko Islam Online said,

    Assalamu’alaikum, wr.wb
    Ditengah carut marutnya sistem pergaulan didalam sistem sistem sekuler, yang mana antara pria dan wanita bebas melakukan apa saja yang mereka mau.Sehingga lahirnya generasi yang tidak jelas asal usulnya (garis nasabnya) atau terjadilah pembunuhan terhadap bayi-bayi tidak berdosa (aborsi). Nah ebook “The Social System in Islam” ini memberi arternatif sistem islam dalam mengatur hubungan pria dan wanita. Silahkan anda download secara gratis di http://www.tokoisla monline.com/ product_info. php?products_ id=55
    Wassalam

  2. Era Intermedia said,

    Bulan Diskon buku-buku eraintermedia. Diskon hingga 50%. Buku-buku haroki, buku keluarga, buku anak-anak, dan buku-buku yang lain.Info lebih lanjut hub http://www.eraintermedia. com

  3. Bekti Hermawan said,

    Kata siapa ya kuda zebra itu belang? Benar nggak sih? Kalau mobil Daihatsu Zebra memang gak ada yang belang! Daripada bingung, ikuti aja infonya di Math e-Magz Pustaka Akal Edisi

  4. Bekti Hermawan said,

    Sering mengalami kejengkelan melihat anak-anak kita berantem setiap hari? Bagaimana mengatasinya dengan cara kreatif dengan menggunakan “akal” kita? Simak infonya di rubrik JADWAL BERANTEM Math e-Magz Pustaka Akal Edisi 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: